Tuesday, September 02, 2008

Klinik 206 hingga Chicken Cordon Bleu


Siang ini aku menyempatkan diri mengantar seorang teman periksa ke dokter. sudah lebih dari seminggu ia telat haid, tiga kali melakukan test pack hasilnya negatif tapi tetap saja belum haid. gelisah dan ketakutan, adalah sebuah gejala klasik seorang perempuan yang mengalami telat bulan, terutama mereka yang cukup aktif secara seksual.
Aku baru mengenalnya beberapa hari. sebenarnya ia adalah pacar temanku. beberapa malam yang lalu, pacarnya segera menemuiku dan mengkonsultasikan masalah ini. ada jeda tiga hari sebelum melakukan pemeriksaan dokter, kekuatiran dan gelisah terus menerus terjadi. Periksa ke dokter, hanya itu satu-satunya saranku untuk membuatnya lebih tenang. bagaimanapun pengetahuanku mengenai kehamilan, dokter akan lebih paham mengenai hal ini.
siang ini, aku mengantarnya ke rumah sakit panti rapih.
klinik kebidanan terletak di lantai dua sayap barat gedung lama, di sebuah lorong kecil dengan dinding berwarna putih dan sapuan warna biru muda, kami menunggu perawat memanggil masuk untuk pemeriksaan.


4 tahun yang lalu, aku dan seorang lelaki pernah duduk di sini. di kursi kayu yang berjejer memanjang di sepanjang lorong. saat itu adalah pertama kalinya aku memeriksakan kehamilanku. suatu sore di bulan desember. aku menunggu di luar klinik 206 dimana dr.Merry Spog akan memeriksa kehamilanku. sebelumnya aku sudah tahu bahwa aku positif hamil, aku datang untuk mengecek usia kehamilanku.

Perawat ke luar, berdiri di depan pintu lalu memanggil namaku, aku masuk dan meninggalakan lelaki itu sendiri. perawat itu sempat melirik ke arah lelaki yang bersamaku.elaki itu duduk menunggu di luar, di kursi kayu ke-2 dari arah barat. 

tidak terasa 4 tahun berlalu. sekarang aku berada di lorong yang sama, di tempat di mana 4 tahun yang lalu aku duduk cemas dan gelisah. aku memegang kedua tangan lelaki itu sembari diam-diam menguatkan diriku. itu bukan yang terakhir, beberapa minggu kemudian kami kembali untuk melakukan pemeriksaan pada dokter yang berbeda. begitu pula sebulan kemudian aku kembali di periksa oleh dokter yang berbeda, dr Bharoto SpoG. ya, aku masih ingat nama dokter itu, ia yang memaksaku untuk rawat inap di rumah sakit dan segera melakukan kuret, saat itu aku masih mengalami pendarahan akibat aborsi. namun kami lari, kami tak punya cukup uang untuk melakukan prosedur aborsi.

waktu terus berlalu, dan kini aku berada di sini dengan perasaan yang jauh lebih baik. tak ada lagi cemas dan ketakutan. lelaki itu telah pergi dan tak meninggalkan kabar. aku melalui perjuangan yang melelahkan. melalui tangisan dan kepedihan yang luar biasa. kini, aku kembali duduk di sini, tanpa bayi di perutku, tanpa lelaki yang kukasihi, tanpa siapapun untuk menguatkanku. aku di sini dengan kekuatan yang kumiliki, tanpa rasa amarah dan kebencian. aku bisa tersenyum kali ini, karena tuhan telah sedemikian rupanya mengasihiku dan memebriku kekuatan untuk bisa berada di sini.

nama temanku di panggil, aku mengantarnya masuk. dr Sri melakukan pemeriksaan, bercanda dengan temanku, sama seperti yang dilakukannya dulu padaku. aku duduk di sebuah kursi di pojok ruangan dan leihat mereka tengah mengobrol, aku menyuruh temanku menanyakan apapun yang ingin diketahuinya. sekilas, aku teringat ketika bertahun-tahun yang lalu aku berada di ruangan ini, dengan penuh kegelisahan mencoba bersandiwara bahwa aku adalah seorang nyonya,bukan nona.

syukurlah, ia tak hamil. hanya terjadi kekacauan hormon. kami pun pergi.

pukul 4 kami keluar dari rumah sakit. ban motor pecah di tengah jalan. menunggu beberapa jam hingga semuanya selesai. aku menuju atm mandiri, buka puasa dengan es kelapa muda dan menghisap sebatang rokok di pinggir jalan.

lalu aku kini ada di sini, menyantap sepiring chicken cordon bleu untuk berbuka puasa. bertahun-tahun yang lalu di sebuah warung di pinggir jalan kaliurang, aku dan lelaki itu sering menyantap makan malam, chicken cordon bleu untukku dan chicken maryland untuknya. 

ah, malam ini hanya sebuah kebetulan. mungkin sebaiknya aku tidak menyelesaikan bukuku, terlalu banyak yang harus ku ingat dan kusimpan ulang.

selamat malam.

No comments:

Post a Comment