Wednesday, August 27, 2008

Kisah Tali Jagat


( tulisan ini didedikasikan bagi mereka penggemar rokok Tali Jagat )
Saya menentang siapapun yang mencoba-coba merokok. Bukan karena saya anti rokok, justru karena saya seorang perokok tulen. Sudah 11 tahun sejak pertama kali saya merokok. Rentang waktu yang cukup lama untuk membuat saya ketagihan dengan benda super kecil ini. saya lebih manut pada barang mungil ini daripada pada pacar, keluarga atau siapapun. Sekali waktu saya harus kehilangan sebuah hubungan yang berharga akibat saya lebih memilih rokok daripada pacar sendiri. Waktu itu sang pacar meminta saya berhenti merokok, maka saya pun berusaha berhenti merokok namun ternyata cinta saya lebih besar pada rokok daripada pada lelaki ini. saya pun diam-diam merokok di kamar mandi atau di tempat yang sepi, lalu sikat gigi yang bersih sebelum ketemu pacar saya ini. lama kelamaan saya mulai berfikir, kok mau merokok saja kayak penjahat ya? Pake ngumpet segala. Alhasil, bukannya saya berfikir cerdas untuk berhenti merokok dan membuktikan pada pacar saya kalo saya pacar yang baik, saya justru rela putus dengannya hanya agar saya bisa merokok dengan leluasa. Kami pun putus. Pikiran saya saat itu cenderung impulsif mungkin akibat rokok itu tadi. Beberapa bulan kemudian saya sempat berulang kali konsultasi ke psikiater untuk berhenti merokok dengan harapan bisa balik lagi dengan pacar saya, namun gagal, ternyata saya memang lebih cinta pada rokok. Tapi kini saya bersyukur nikotin sudah meracuni pikiran saya, seandainya pikiran saya sehat mungkin saya akan tetap bersama pacar saya.
Pertama kali coba-coba merokok waktu saya di kelas 3 SMP. Waktu itu Cuma iseng. Ketika SMA saya mulai coba lagi, terutama ketika menulis buku diary, kok rasanya enak ya sambil merokok. Kebetulan kakak saya seorang perokok jadi saya bisa nyolong rokoknya dikit-dikit. Ketika menginjak kelas satu SMA saya dapet inspirasi ingin menjadi perempuan baik-baik seperti yang diharapkan keluarga, agama, masyarakat dan bangsa. Perempuan seperti itu tidak merokok. Saya terinspirasi ibu kartini, bahwa perempuan baik-baik itu kalem, bermata bundar dan lemah lembut. Potret ibu kartini yang di pajang di dinding kelas sedang memakai kebaya dengan sanggul dan wajah yang lembut, saya mulai bertanya kenapa tidak ada rokok di bibirnya yang manis itu? Lalu saya pun mau menduplikasi ibu kartini. Saya berhenti merokok.
Hehehe…ternyata tidak berhasil. Hanya 8 bulan saya berhenti merokok. Maka daripada saya berhenti merokok, saya pun mengubah impian saya menjadi seorang kartini. Mungkin waktu itu ibu kartini tidak merokok karena dia malu beli rokok di warung sebelah, apalagi dia anak priyayi, pikirku.
Ibu dan kakak-kakakku sangat membenci perilakuku ini. saya maklumi, itu bentuk cinta kasih yang mulia. Namun setelah semakin dewasa mereka tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Bukan berarti mereka setuju saya merokok, mungkin itu pilihan yang lebih baik daripada membuang energy berlebihan hanya untuk marah-marah tanpa hasil. Ketika saya berumur 21 tahun, salah satu kakak laki-laki saya berujar : “ kamu sekarang sudah besar, tahu mana yang baik dan buruk bagi dirimu sendiri.”
Waah waah…ternyata omongan itu lebih berpengaruh daripada sejuta kemarahan dan nasehat lainnya.
Pertama kali merokok, saya menjadi pelanggan setia Sampoerna A mild hingga tahun 2001 ketika duduk di semester 2 bangku kuliah, setelah itu saya ganti rokok menjadi Djarum Black, pada tahun 2005 saya mulai beralih pada merek baru yaitu U-mild, lalu menjadi X-mild. Pilihan lain jika pilihan tadi tidak ada di warung terdekat maka saya mengkonsumsi L.A lights. Sesekali saya juga mengkonsumsi Dji Sam Soe di akhir bulan dengan pertimbangan bahwa satu batang rokok ini bisa di nikmati berulang-ulang, dirokok lalu dimatikan, begitu seterusnya sampai habis satu batang. Biasanya pilhan terakhir ini sangat berguna sebagai pertolongan pertama di pagi hari ketika mules mulai muncul.
Saat ini saya sedang tergila-gila pada sebuah rokok merk baru, Tali Jagat. Dengan harga di pasaran sekitar 3.600 – 4.000 per bungkus saya bisa menikmati rokok dengan cita rasa yang memuaskan. Sebelum Tali Jagat, saya juga mengkonsumsi rokok Nagasaki dan Granat, nama yang cukup unik untuk sebuah rokok. Kedua rokok ini bisa di beli dengan harga 3.500 untuk satu bungkus dengan isi 21 batang, murah meriah, ada bonus lain dari kedua rokok ini yaitu dahak yang biasanya muncul di pagi hari. Tidak semua warung menyediakan rokok ini, biasanya warung-warung tertentu di pasar kecil atau di kampung-kampung, dengan alasan rokok-rokok tersebut adalah rokok yang di edarkan tanpa pajak. Yang lebih unik lagi adalah jika anda membaca tulisan di balik bungkus rokok tersebut anda bisa menemukan kalimat ini :
“merokok dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.”
Sampai hari ini saya masih penasaran siapa orang cerdas yang menciptakan kalimat ini. sebuah kalimat yang cukup menginspirasi. Saya mulai berfikir apa maksud di balik kalimat ini.
Saya tetap merokok lho sampai sekarang. Makin hari saya makin menemukan alasan yang tepat untuk tetap merokok. Di antaranya sebagai berikut :
Saya tidak hanya merokok untuk kepentingan diri sendiri, melainkan demi kepentingan bangsa dan negara, bisa anda bayangkan berapa banyak uang yang hilang dari kantong negara jika banyak perokok seperti saya memutuskan berhenti. Mereka kehilangan 40% uang dari sebungkus rokok yang kami beli. Dengan uang hasil pajak rokok saja negara belum bisa membayar lunas utang luar negeri apalagi tanpa pajak ini.
Jika banyak perokok seperti saya berhenti merokok maka bisa anda bayangkan berapa ratus juta buruh pabrik rokok yang kehilangan pekerjaan mereka. Di Kediri saja sekitar 16.000 orang hidup bergantung pada Gudang Garam, belum lagi rokok-rokok lain hasil home industry.
Pilihan saya pada rokok cukup bijak, saya memilih rokok-rokok local dengan pertimbangan cinta produk Indonesia, jadi menyumbangkan nominal tertentu untuk kesejahteraan rakyat.
Baiklah, anda bisa menganggap alasan-alasan tersebut sebagai lelucon, pembelaan, kebenaran atau apapun. Pada intinya, saya memang belum mau berhenti merokok.
Itu sebabnya bagi anda yang tidak merokok lebih baik tidak mencoba-coba merokok karena rokok bisa membuat anda cerdas, meski cerdas itu penyakit. Ya, cerdas untuk membela diri.
Kembali pada kisah si Tali Jagat, dalam beberapa bulan terakhir rokok ini menjadi salah satu trend di antara para perokok muda di Jogjakarta terutama mereka mahasiswa dan orang-orang yang menjadikan harga ekonomis sebagai sebuah pertimbangan. Rokok buatan kota malang ini mulai masuk ke swalayan dan took-toko besar lainnya. Suatu malam ketika saya dan andi nongkrong di Circle-K, seorang mahasiswa yang tengah membuat penelitian tentang rokok baru, Surya Slim, datang menghampiri dan meminta kami mengisi lembar kuisioner. Salah satu pertanyaannya adalah rokok apa yang tengah kami konsumsi saat ini, apakah kami mau beralih ke Surya Slim dan apa alasannya. Tentu saja kami sebutkan bahwa kami mengkonsumsi Tali Jagat dan tidak berniat untuk beralih ke Surya Slim. Selesai mengisi kuisioner kami mulai mengobrol asyik seputar rokok, saya dan andi mulai bertutur tentang Tali Jagat. Di luar dugaan, mahasiswa tersebut mengeluarkan Tali Jagat dari sakunya dan menawari kami. Ternyata kami sama-sama penggemar Tali Jagat. Alhasil kami mengobrol tentang Tali Jagat, tentang rasa dan harganya yang ekonomis. Kami juga sempat mengobrol tentang kira-kira seperti apa ya para SPG Tali Jagat nanti. Kami punya bayangan yang cukup eksotis tentang hal itu. Para SPG Tali Jagat akan memakai kebaya dan sanggul di rambutnya dan di antar berkeliling naik andong. Waah waah keren kan?
Pagi ini adalah hari pertama saya tiba di Jogja.saya segera mencari Tali Jagat di warung terdekat. Selama berada di Kediri saya kesulitan mendapatkan rokok satu ini. di Kediri sendiri pamor Taji Mas melebihi Tali Jagat.
“Tali jagatnya satu.”
Bapak tukang warung menyodorkan sebuah rokok berbungkus merah.
“Lho kok Bintang Buana?” jawab saya kebingungan ketika melihat rokok tersebut.
“Ya, ini Tali Jagat.” Kata si bapak
“Sekarang Tali Jagat ganti merk, karena harus ganti pita dan bayar pajak lebih mahal, makanya ganti merk dan kemasan.” Jelasnya lagi
Sekilas bungkusnya hampir sama, warna dan desainnya juga. Hanya beda di Merk dan gambar di bungkus depannya. Saya urung membeli karena curiga.
Lalu saya beralih ke warung lain. Ternyata jawaban dan penjelasannya sama. Kebetulan masih ada sisa satu bungkus Tali Jagat dengan merk dan kemasan yang lama.
“Saya beli satu yang baru dan satu yang lama.”
Ah lumayan, kemasan lama bisa untuk koleksi nanti, pikir saya.
Saya perhatikan baik-baik. Pada kemasan Tali Jagat yang lama tertulis buatan Bintang Bola Dunia Malang, sedangkan pada Bintang Buana tertulis buatan Amiseta Malang.
Ketika saya mampir ke warung Burjo saya penasaran untuk membuka dan mencicipi keduanya. Saya coba satu-satu. Sedikit kecewa, ternyata Bintang Buana kualitasnya di bawah Tali Jagad. Lebih baik daripada Nagasaki atau Granat namun tetap di bawah Tali Jagat.
Saya segera menelpon andi dan mengabarkan hal ini. andi sama kaget dan kecewanya tentang hal ini. pesan terakhirnya adalah.
“Kalo dapet kemasan lama, beliin ya, simpenin buat aku.”
Baiklah. Aku juga akan memburu kemasan lama. Hiks, ah Tali Jagatku.
Tika, aku juga akan bawakan Tali Jagat untukmu. Lebih baik nanti saja kukabari tentang hal ini. Gak jadi deh niat kita beli satu slop Tali Jagat untuk persediaan di Pare. Hiks, ah Tali Jagatku.
Kepada pabrik yang memproduksi Tali Jagat, pesanku Cuma satu.
Kembalikan Tali Jagat kami !

6 comments:

  1. Aku sudah memesan 2 pak buat ole2 kalu mau pulang ke makassar. Ough, Tali Jagat... Hihihi..

    ReplyDelete
  2. Mohon di update judulnya. KISAH BINTANG BUANA. Tali jagat sudah bermetamorfosa menjadi Bintang Buana.

    Cie, laen yang dah ngumpul tugas akhir.. Ketempat arief budiman ikut ga?

    ReplyDelete
  3. asik jg mbaca tulisan tali jagatnya...
    jadi tertarik nih buat nyobain, soalnya aku penggemar surya slim, di jakarta ada nggak ya??
    pahagaku_nihan@yahoo.com

    ReplyDelete
  4. di malang, tali jagad masih wilujeng tentrem adem ayem ...
    gak ada yang berubah..

    malah kini hadir kemasan filter..

    ReplyDelete
  5. aQ ckrng lg menikmati tali jagat nech.
    Benar-benar ciamikkkkk.


    wkwkwkwk

    ReplyDelete
  6. Menarik. Tali jagat ini perasaan masih eksis?? Ada seorang madura yang jga sangat menggandrungi tali jagat. Sering setiap bersamanya aku mencicipi tali jagat ini. Berat juga :p

    ReplyDelete