Sunday, July 06, 2008

Aku Memanggilmu

Aku gak tau kamu dimana. Mungkin kamu lupa mengirim kabar. Enggan mengirim kabar? Aku tak mau menebak. Kamu tak memberi kabar padaku, begitu saja.

Aku tidak marah. Hanya saja, rasanya aneh tanpa membaca emailmu. Ada yang hilang tanpa tegur sapa kita. Aku, mungkin, kali ini merasa kehilangan kamu.seperti ada yang kosong. Sebagian dari diriku berharap kamu masih menyapaku di pagi atau siang atau malam hari.tapi sebagian dari diriku tahu diri kok.

Kamu mungkin sendiri, mungkin menikmati dunia anehmu itu, atau bersama perempuan lain? Ah, aku terus saja menebak. Maaf, aku hanya kangen.

Aku gelisah. Kupikir, kita tak lagi satu. Aku tak lagi merasakan kehadiranmu di sini, sekalipun aku memanggilmu. Aku seringkali lupa menyapamu di pagi hari. Mungkin aku juga tak mendengarmu. Kita benar-benar jauh ya sekarang.

Aku tak risau kamu di mana, aku tak khawatir kamu bersama perempuan mana. Aku tak terlalu peduli. Namun aku takut merasa jauh darimu. Aku masih butuh kekuatan ini. Kekuatan yang membuatku merasa seakan tak ada yang bisa menghentikanku.

Aku terlalu banyak bicara ya? Kamu bosan ya? Maaf.

Ah rino, aku menangis. Ini tangisan ke-4 sejak perpisahan kita. Maaf ya aku menangis lagi. Ini hal baik, tak perlu ditangisi, bukan begitu?

Bukan hanya kamu yang jauh. Aku bahkan tak lagi menikmati bulan, bintang, suara angina atau cahaya matahari. Semuanya mulai asing bagiku. Aku merasa sendirian lagi.

Kamu di mana?

Bintang, kenapa diam saja? Bantu aku menemukannya. Aku kangen sekali padanya.

Matahari, sampaikan ciumku untuknya. Kecupannya masih terasa hangat di pipiku.

Angin, bisikan padanya, aku cinta padanya. Ya, aku cinta padanya, begitu.

Rino garzarelli, aku memanggilmu. Datanglah.

No comments:

Post a Comment