“ Ass.wr.wb
Inna Hudaya…
Mudah-mudahan di tempat ini, mendapatkan keberkahan dan keberuntungan sebagaimana namanu…Hudaya. Amin…
Wassalam
Mamah “
Sepucuk surat tersimpan dengan rapih diantara paket yang diantar ke pare senin sore kemaren. Terimakasih mamah untuk makanan ringan yang bisa mengenyangkan, juga untuk Mp4 yang bisa menghiburku di sini, keripik kentang buatan mu akan ku santap dengan lahap.
Aku berharap di antara sunyi senyap kota kecil ini aku bisa menemukan ketentraman dan keberkahan seperti yang kau inginkan. Tak ada hal mewah yang bisa membelalakan mataku di sini. Namun sepeda onthel dan hijaunya sawah dan perkebunan tebu sudah lebih dari cukup menentramkan hatiku. Aku belajar banyak di sini, mulai dari segera pulang sebelum pintu kos di kunci hingga lebih seksama mendengar adzan di kumandangkan. Alhamdulilah mamah, di sini telingaku lebih sholeh, ia tidak lagi berang mendengar suara tuhan di kumandangkan, mungkin karena adzan nya yang merdu atau memang tuhan telah menyelipkan sebait puisi untuk ku lewat ayat-ayatnya. Aku belajar lagi mama, semoga shalatku bisa lebih baik. 5 waktu mungkin terlalu muluk untukku, tapi tidak ada yang tidak mungkin, bukan begitu mamah?
Terimakasih mamah, sepucuk surat mu telah melepaskan gundah gulana ku, apa lagi yang kubutuhkan selain doa dan dukungan mu. Tak ada sesuatu pun di dunia fana ini yang bisa memberiku kekuatan dan cinta seperti yang telah kau berikan untukku. Jika aku mati lebih dulu darimu kan kuminta tuhan mempersiapkan segala sesuatunya sesempurna mungkin bagimu.
Selamat malam mama, maghrib sudah lewat dan aku sudah mulai berkelana lagi melalui jalan jalan kecil dan sunyi di pare, bersama sepeda onthelku tentunya. O ya mama aku lupa memperkenalkannya, kuberi nama Pendekar Dhaha, karena ia tangguh dan gagah seperti salah satu prajurit Airlangga. Tak kalah oleh umur dan aus nya yang mulai karatan, ia setia mendampingiku di sini. Salam untukmu mama.
No comments:
Post a Comment