Monday, May 12, 2008

A letter to Bramantyo Aditya

Untunglah aku ada di pare, jauh dari
bisingnya kota jakarta


jadi, aku tak perlu berkhayal untuk
menamparmu setiap hari...


bukan deru bis kota dan teriakan
orang-orang yang membuat kota jakarta menjadi bising


tapi suara-suara asing di kepalaku yang
terus-menerus meneriakan kemarahan


pada siapa lagi jika bukan pada Tuan
Bramantyo Aditya..


maaf, selalu kupikir memaafkan itu
mudah..itu yang kuharapakan


namun ternyata melupakan itu jauh lebih
sulit dari memaafkan




Maafkan aku jika imajinasiku terlalu
liar,


apakah salah sebuah tamparan sekali
saja mendarat di pipi manismu itu


sekali saja, hanya untuk mengingatkan
sesuatu yang kamu telah jauh melarikan diri darinya


aku tak ingin menampar untuk
menyakitimu


barangkali saja kamu lupa atau sudah
amnesia, mungkin kamu butuh tamparan untuk menyadarkanmu...




Tapi, aku takkan menyerah pada kota
jakarta


aku kan kembali, sesegera mungkin...


dan tunggu saja, aku yakin di antara
waktu misteri yang terbentang di masa depan


suatu waktu aku kan berpapasan dengan
kamu


mungkin di halte busway, di eskalator
salah satu gedung tinggi di jakarta, di stasiun senen, atau bisa di
mana saja...


dan tamparan itu akan menemukan tujuan,
mungkin itu akan menjadi tamparan termanis yang pernah kau dapatkan
seumur hidupmu


dan mungkin tamparan itu jugalah yang
sebenarnya kamu tunggu-tunggu, untuk melepas rasa bersalah mu ( aku
tahu kamu merasa bersalah dan malu, itu sebabnya kamu melarikan diri
!)




Bersabarlah Bram, tunggu aku dengan
hadiah kecil dari cisco !

No comments:

Post a Comment