Tuesday, May 13, 2008

A letter to Bramantyo Aditya

Untunglah aku ada di pare, jauh dari bisingnya kota jakarta. jadi, aku tak perlu berkhayal untuk menamparmu setiap hari...

bukan deru bis kota dan teriakan orang-orang yang membuat kota jakarta menjadi bising,tapi suara-suara asing di kepalaku yang terus-menerus meneriakan kemarahan. pada siapa lagi jika bukan pada Tuan Bramantyo Aditya..

maaf, selalu kupikir memaafkan itu mudah..itu yang kuharpakan. namun ternyata melupakan itu jauh lebih sulit dari memaafkan


Maafkan aku jika imajinasiku terlalu liar,

apakah salah sebuah tamparan sekali saja mendarat di pipi manismu itu. sekali saja, hanya untuk mengingatkan sesuatu yang kamu telah jauh melarikan diri darinya

aku tak ingin menampar untuk menyakitimu

barangkali saja kamu lupa atau sudah amnesia, mungkin kamu butuh tamparan untuk menyadarkanmu...


Tapi, aku takkan menyerah pada kota jakarta

aku kan kembali, sesegera mungkin...

dan tunggu saja, aku yakin di antara waktu misteri yang terbentang di masa depan

suatu waktu aku kan berpapasan dengan kamu

mungkin di halte busway, di eskalator salah satu gedung tinggi di jakarta, di stasiun senen, atau bisa di mana saja...

dan tamparan itu akan menemukan tujuan, mungkin itu akan menjadi tamparan termanis yang pernah kau dapatkan seumur hidupmu

dan mungkin tamparan itu jugalah yang sebenarnya kamu tunggu-tunggu, untuk melepas rasa bersalah mu ( aku tahu kamu merasa bersalah dan malu, itu sebabnya kamu melarikan diri !)


Bersabarlah Bram, tunggu aku dengan hadiah kecil dari cisco !



No comments:

Post a Comment