Saturday, September 15, 2007

Aku adalah mama kucing

aku tidak mengerti bagaimana caranya membuat sebagian orang memahami bahwa hubungan antara aku dengan edo dan pi'i tidak sedangkal hubungan majikan dan binatang piaraannya. aku adalah mama mereka.
mereka memang tidak keluar dari rahimku atau menyedot habis air  susuku namun tanganku telah membesarkan mereka dan melindungi mereka sebagaimana seorang induk pada anaknya. mereka tak memahami bahwa manusia berbeda dengan mereka, mereka terlanjur mengenalku sebagai induk mereka daripada emaknya sendiri.
mereka memang tak punya akal untuk membedakan mana yang pantas atau tidak pantas,namun tuhan telah memberi mereka naluri untuk mampu menyayangi dan mengabdi pada orang2 yg mencintai mereka.
tahukah kalian bahwa mereka mampu mengekspresikan rasa cinta, kecemburuan bahkan amarah sekalipun?
mereka memang cuma kucing kampung, makhluk tuhan yang tak lebih sempurna dari manusia. namun terkadang mereka lebih punya hati daripada manusia!
mereka akan duduk di sampingku ketika aku sakit, menjilat air mataku ketika ku bersedih bahkan mereka menggigitku ketika mereka merasa aku telah mengabaikan mereka.
aku yang seorang manusia telah belajar banyak dari kucing2 kampung yang tak tahu etika...mereka telah memberiku kekuatan dan mengajarkan kasiih sayang dan kesetiaan yang tulus...tuhan telah mengirimkan kucing2 kampung ini sebagai wahyu pencerahan bagiku. terimakasih tuhan...
sekarang bisakah kalian mengerti dan memahami betapa aku mencintai mereka?
aku adalah si mama kitten.
lihatlah mereka sebagai anak2ku dan bukan piaraanku !

2 comments:

  1. aku adalah papa kucing!!!
    grrhhh..meowrrr..

    ReplyDelete
  2. aku bisa liat itu. kebiasaanmu bawa-bawa kucing ke ruang publik seperti warnet merefleksikan hal itu. tak hanya dari seekor kucing, kurasa manusia bisa belajar dari segala hal yg ada di alam ini.

    kadang kita begitu takjub melihat seorang pesulap menunjukkan kehebatannya, entah itu kemampuannya dalam menghilangkan diri atau menembus tembok, tapi tak sadarkah kita betapa setiap hari keajaiban telah berseliweran di depan kita..?

    matahari yg terbit dr timur ke barat, hujan yang jatuh dari langit ke bumi. gempa yg dengan sekejap mengecilkan nyali kita yg sehari-hari berlagak angkuh. kita melihatnya sebagai fenomena alam yg wajar, krn masa kecil menuju dewasa secara tak sadar telah mengcover ketakjuban-takjuban itu sebagai hal yg (akhirnya) tampak biasa.

    tapi coba bayangkan seandainya kita dilahirkan langsung seperti dg keadaan kita yg sedewasa ini, dengan akal yg matang dan nalar yg cukup. barangkali kita akan lari bersembunyi ketika melihat terbitnya matahari, terkagum-kagum ketika tergantikan oleh bulan. menjerit histeris tatkala melihat derasnya air jatuh dari langit. malah mungkin kita akan gila melihat kejutan-kejutan yg Tuhan berikan dalam tiap detik yg kita lewati.

    amati cara-cara binatang mempertahankan hidupnya, sistem pertahanan diri yg Tuhan rancang dengan sangat kompleks. tools-tools pencari makan yg Tuhan lengkapkan dalam tubuh mereka. juga, bagaimana mereka begitu menjaga setiap hembusan nafas keturunannya dg penuh cinta. mereka tak segan-segan akan melawan mahluk paling menakutkan dalam mimpi buruk mereka seandainya nyawa anak-anak mereka terancam.

    maka terlihatlah 'tangan' Tuhan disana. hampir tak ada satu tetes embun pun yang terbuang percuma di atas muka bumi ini. Tuhan menjaga seluruh tatanan kosmos yg ada dengan sangat sempurna, hingga mahluk seremeh kecoa dan seusil bakteri tetap mendapatkan hak hidupnya. adakah hewan yang kelaparan dalam menjalani setiap detik hidupnya bersama alam? tidak kurasa.

    kita sering menggambarkan kebrengsekan manusia dengan ikon-ikon kebinatangan. tapi kalau sudah mikir seperti itu, terkadang manusia justru lebih 'binatang' dari binatang itu sendiri.

    ah, makin banyak omong aja aku ini. begitulahh..

    ReplyDelete