nenek tua itu selalu berada di sana. pada shaf yang sama dia selalu setia menunggu datangnya saat shalat berjamaah. setiap kali aku datang ke mesjid ini nenek tua itu selalu ada di sana. ia tak mampu shalat seperti jamaah lainnya. ia hanya mampu shalat dengan kaki tertelunjur ke arah kiblat dengan rukuh kusut yang telah kehilangan warna putihnya.
kali tadi tuk pertama kalinya dia menyapa ku dan kami saling bertukar kata. aku sama sekali tidak mengerti satu patah kata pun yang dia ucapkan, aku tak mengerti bahasa jawa yang terlontar dari kedua bibirnya. aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk sesekali seakan mengerti apa yang dia maksud. tak satu pun kata yang mampu aku pahami, namun lewat ringkuh tubuhnya yang bersujud dengan penuh kerelaan di hadapan tuhan aku bisa mengenali kesetiaannya yang tak ternilai. kesetiaan pada panggilan Tuhan.
ketika di sampingku dia shalat dalam keadaan yang paling tidak memungkinkan, dengan seluruh tubuhnya yang telah reyot, bacaan qur'an yang terengah-engah seakan kehabisan nafas namun tetap di buru nya juga. dan kedua kaki yang telah melemah seakan mengikhlaskan seluruh ketakberdayaannya pada Tuhan. aku pun luluh...
maka siapakah aku yang masih muda belia dan sehat ini hingga tak mampu melakoni kesetiaan yang sama. aku malu....
No comments:
Post a Comment