Monday, December 05, 2005

Wirabuana 2

Aku dan kawan-kawan ku telah mengikat janji saling setia di suatu tempat kecil di sudut kota jogja. Rumah asri dengan pagar hijau yang menjadi istana kami, tempat kami melepas penat berbagi cerita dan terbahak bersama dalam canda tawa yang mengalir bak sebuah alur hidup. 

Kamarku berukuran 3 x 4 m dengan sebuah daun jendela yang lebar dan pintu berwarna coklat, cukup sesak sebagai tempat tinggal dengan seabreg barang yang menumpuk satu sama lain, dinding kamarku berwarna hijau muda cerah ; pilihan warna yang kesekian kalinya setelah biru dan ungu. Sebuah tv 14 inch berwarna kuning tampak serasi dengan warna-warni merah biru hijau yang tertata manis di kamarku. Kamar mandi berukuran 1x 1 m hanya cukup untuk menggerakan pantat dengan posisi yang terbatas. Selain kamarku, berjejer kamar-kamar lainnya dengan warna-warni yang menggambarkan karakter si penghuni nya masing-masing. 


Satu warna hanya untuk satu orang, dan lainnya harus memilih warna lain. Jika dalam keadaan terbuka rumah kami mungkin akan tampak seperti pelangi yang memukau. Pelang,itu lah kami, beragam perempuan dengan karakter yang berbeda, satu dan lainnya berbeda, unik dan kadang menjengkelkan. namun keberagaman itu terajut menjadi jalinan yang indah di bawah atap rumah yang menaungi kami. 

Sesekali kami ribut dan saling menggosip satu sama lain, namun entah karena kekuatan apa pada akhirnya kami menjadi satu padu seperti saudara yang telah saling mengenal lama. Semua itu, suka dan duka ; meski tak semua sama, kami nikmati bersama. 

Rumah kami adalah sebuah rumah asri milik sebuah keluarga hangat yang telah membuka lebar tangan mereka untuk menyambut dan menyediakan sebuah tempat yang nyaman dan hangat. Nyonya rumah kami adalah seorang perempuan jawa tulen yang begitu lembah lembut, penyabar dan perhatian. Mungkin saking baiknya kami malah menjadi tidak tahu diri dan menyebalkan, namun begitu kesabaran beliau dalam menghadapi kami tak pernah luntur. Mungkin itu pula lah yang lambat laun membuat kami begitu menghormati beliau. Tingkah kami sebagai anak muda bukan lah hal yang terpuji, kadang berlebihan dan merugikan diri sendiri. Jika saja tak ada seseorang yang bisa di teladani dan di homati mungkin kami akan makin jauh terbawa arus hingga akhirnya tersesat. tidak sekali dua kami membuat jengkel beliau, dari mulai pulang malam, memanjat pagar, ribut di tengah malam, telat bayar uang kos dan listrik atau bahkan sesekali mencuri sayur mayur dari kulkas. Bagi kami yang jauh dari keluarga dan kampung halaman, sebuah keluarga baru adalah setetes kasih sayang yang telah menghapus dahaga kami. Di rumah ini kami merasa terlindungi, di rumah ini kami merasa punya tempat untuk menjadi diri sendiri dan menjadi sebuah bagian keluarga yang besar. 

Rumah kami punya halaman yang lumayan luas. Setiap kamar langsung menghadap ke luar halaman, setiap pagi kami bisa langsung menikmati sinar matahari dan udara pagi yang segar. Pagar kami berwarna hijau dengan dua buah pohon mangga tinggi besar di setiap sisinya. Setiap bulan oktober-desember kami biasa panen mangga, hampir setiap hari kami menjamu tamu dari pohon mangga kami sendiri. Betapa suburnya tanah kami. Tidak hanya mangga, kami juga punya pohon jambu monyet dan pepaya, ada juga pandan, sirih, kenanga dan bunga-bunga lainnya. What a beautiful garden ! 

Di sebelah selatan tepat di hadapan kamarku, ada sebuah kolam kecil yang di isi ikan-ikan kecil dan sebuah kandang tinggi besar berwarana hijau yang di hias sedemikian rupa sebagai tempat tinggal ayam jago kebanggaan tuan rumah, di sebelahnya 2 ekor burung cantik dan cerewet bertengger setiap hari. Setiap pagi ayam akan berkokok membangunkan kami yang tengah sekarat oleh mimpi buruk kami, dan kicauan burung menjadi nyanyian indah di awal pagi hari yang ceria. 

Ketika hari hujan kami biasa bermalas-malasan dengan keadaan pintu terbuka sehingga kami bisa menyaksikan air hujan membasahi halaman kami, secangkir kopi and alunan musik adalah pelengkap yang sempurna. Ini lah rumah kami, rumah yang telah menjadi saksi atas perubahan-perubahan besar atas diri kami yang tumbuh dari seorang gadis kecil menjadi perempuan dewasa. Dinding kamar kami adalah saksi bisu atas rindu redam gelora bahagia lara dan duka yang telah tercipta dalam kurun waktu 4 tahun. Suatu saat rumah kami akan bercerita lebih banyak tentang kami melebihi apa yang kami sadari.

No comments:

Post a Comment