Sunday, November 06, 2005

ANALOG CINTA

Yasmin tak percaya pada apa yang di lihatnya. Lelaki muda yang baru saja Masuk ke kamar hotelnya adalah seseorang yang tak asing lagi baginya. Wajah lelaki itu pun sama tercengangnya melihat Yasmin tengah terbaring di atas ranjang dengan kedua kaki yang siap mengangkang. Yasmin terperanjat, duduk sembari membenahi rok nya yang hampir terbuka.

Rino yang sedari tadi menemani Yasmin hanya bisa bengong melihat gelagat kedua orang tersebut.

“ Gak usah kaget mbak, Mas ini adalah dokter yang akan membantu mbak. Kenalkan ini dokter Aulia.” Rino memperkenalkan Aulia tanpa mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Yasmin hanya terduduk diam menundukkan kepalanya. Aulia tanpa sepatah kata pun keluar dari kamar itu dan membanting pintu dengan keras. Rino semakin bingung, dan tanpa banyak bicara Rino menyusul Aulia. Dengan tergopoh-gopoh Rino mencoba menghampiri Aulia yang berlari-lari di anak tangga.

“ Aulia, tunggu !” Rino memanggil Aulia lalu menepuk bahunya.
“ Jadi itu pasien yang kamu maksud?” Aulia tampak begitu emosi ketika Rino mencoba menarik tubuhnya.
“ Ya, dia pasien kita hari ini, kenapa?” Rino menjawab sembari kebingungan.

Tak ada jawaban dari Aulia. Aulia langsung kabur meninggalkan Rino yang semakin kebingungan. Ketika kembali ke kamar hotel, Yasmin sudah tidak ada lagi di sana.


**********

“ Nyonya Yasmin.” Suster memanggil nama Yasmin dan mempersilakannya Masuk ke ruangan dokter.
“ Selamat siang Indra!” dengan sebuah senyuman Yasmin menyapa dokter Indra yang tengah menunggunya. 

Dokter Indra adalah teman lama yasmin yang telah di kenalnya semenjak SMA. Kini Indra lah yang menjadi dokter pribadinya sekaligus sahabatnya.

“ Siang juga Yasmin, kamu sendiri? Suamimu mana?” Indra menanyakan kedatangan Yasmin yang hanya sendiri.

Biasa lah ndra, suami ku terlalu sibuk dngan pekerjaannya. Pasien nya makin hari makin banyak.” Yasmin mencoba mencari alasan yang tepat.

“ Ehm…sebenarnya Aulia seharusnya ada di sini, karena apa yang akan aku sampaikan harus dia dengar langsung. Tapi sudahlah…Aulia tentu akan mengerti jika membaca hasil lab ini.” Indra menyodorkan lembaran kertas hasil laboratorium ke tangan Yasmin. Indra pun mulai menerangkan hasil laboratorium tersebut. Sejauh ini Yasmin tidak mengalami gangguan apapun yang dapat menghalanginya untuk mempunyai seorang momongan. Justru suaminya lah, Aulia, yang menurut indra keadaannya kurang sehat. Sperma Aulia terlalu lemah hingga tak bisa membuahi rahim Yasmin. Yasmin tak tahu bagaimana caranya memebritahukan Aulia mengenai kabar ini. Bingung.

“ Bagaimana kalau besok kita makan siang bareng sekalian mengenang Masa-Masa SMA dulu? “ Indra mengajak Yasmin sebelum Yasmin sempat meninggalkan ruang kerjanya.

“ Hmm...gimana ya, sebenarnya aku ada rencana, tapi sepertinya bisa. Gimana kalau di tempat biasa jam 1 siang?” Yasmin menerima tawaran Indra.

“ Ok, C u tomorrow ! “ Indra mengacungkan jempolnya yang di balas senyuman Yasmin.

**********

Yasmin menyerahkan lembaran kertas hasil laboratorium pada Aulia. Aulia diam sesaat. Muka Aulia tiba-tiba berubah menjadi kusut. Aulia menarik nafas panjang.

Braaaak......

Aulia menendang pintu sekeras mungkin dan meninggalkan Yasmin yang tengah sesenggukan menangis di samping ranjang. Yasmin tak tahu harus berbuat apa lagi. Yang jelas Aulia tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja terjelaskan dalam lembaran-lembaran kertas itu.

Selama hampir 2 tahun mereka menikah, dan selama itu pula mereka belum di karunia seorang anak. Itu tak menjadi soal buat Yasmin, toh ia tetap mencintai Aulia apa adanya. Dan ada atau tidak ada nya seorang anak pun takkan merubah perasaan Yasmin. Kalau bukan karena desakan sang mertua, Yasmin dan Aulia takkan memeriksakan diri ke dokter.

Semenjak kejadian itu, Aulia berubah. Ia tidak lagi seperiang dan sehangat dulu lagi. Aulia hanya pulang ketika hari benar-benar malam dan berangkat lagi sebelum sarapan buatan Yasmin matang. Mereka tak pernah lagi bercinta seperti saat-saat dulu. Karena setiap kali mereka bercinta Aulia selalu gelisah.

“ Maafkan aku...” hanya itu yang terlontar dari mulut Aulia setiap kali mereka selesai bercinta.

“Sudahlah Mas, tidak apa-apa.” Yasmin mencoba menghibur dan menenangkan Aulia, sekalipun nafsu birahinya masih memuncak di ubun-ubun. Hasratnya untuk kesekian kalinya terpuruk di menit ke dua persetubuhan mereka.

“ Mas, kita gak bisa terus-terusan seperti ini.” Yasmin membelah kebisuan di antara mereka. Selembar kain putih yang menyelimuti keduanya tersingkap ketika Yasmin mencoba duduk di pinggir ranjang.

“ Apa maksudmu ?” Indra bersikap seolah tak peduli dengan omongan Yasmin.

“ Lebih baik kita gak usah ketemu lagi. “ Yasmin mencoba membuat Indra yakin dengan perkataannya.

“ Yasmin, tolong buat aku mengerti. Kenapa tiba-tiba omonganmu jadi ngelantur begitu.” Indra mulai serius menanggapi omongan Yasmin.

Tidak Mas, aku tidak ngelantur, aku serius.” Yasmin sekali lagi menegaskan ucapannya.

“ Maksudmu, kita putus?” Indra bertanya dengan penasaran.

Yasmin hanya menganggukkan kepalanya.

“ Aku mencintai Mas Aulia, aku tak bisa terus-terusan mengkhianatinya seperti ini” Yasmin mulai menangis.

“ Sudahlah Yasmin, jangan ngelantur, kamu sendiri yang bilang kalau suamimu itu tak bisa memuaskanmu.” Indra mulai membela dirinya.

“ Mas, ini bukan tentang nafsu, aku mencintai Mas Aulia.” Yasmin semakin sesenggukkan menangis.

Indra mencoba untuk duduk lalu merangkul tubuh Yasmin dari belakang.

“ Ayolah say, kamu tidak serius kan?” Indra mencoba merayu Yasmin.

“ Mas, kali ini aku benar-benar serius!” suara Yasmin semakin tinggi, lalu Yasmin melepaskan diri dari pelukan Indra yang menahannya pergi. Yasmin berlari ke arah toilet. Terdengar suara Yasmin menangis sesenggukkan. Beberapa menit kemudian Yasmin keluar dengan berpakaian lengkap lalu langsung membuka pintu kamar dan pergi berlalu begitu saja. Indra hanya bisa diam termenung.

**********

Yasmin tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ketika melihat Aulia membuka pintu kamar hotel, langit di atasnya serasa runtuh dan meluluhlantahkannya ke bumi. Kini Yasmin tahu siapa Aulia sebenarnya. Lelaki yang telah di kawininya 2 tahun yang lalu yang mengaku sebagai dokter umum. Lelaki yang di cintai Yasmin dengan sepenuh hati hingga mampu membutakan logikanya. Selama pernikahanyya, Yasmin tak pernah benar-benar mengerti apa pekerjaan Aulia selama ini. Kini Yasmin mengerti bagaimana semua kemewahan yang di nikmatinya bisa di hasilkan oleh seorang dokter umum biasa seperti Aulia. Selama ini Yasmin hanya tahu bahwa semua kemewahan yang di limpahkan padanya adalah hasil jerih payah Aulia dari pekerjaannya yang halal dan mulia. Kini, kejadian sore tadi telah membukakan mata Yasmin tentang apa sebenarnya pekerjaan Aulia.

Malam itu Yasmin menunggu kepulangan Aulia. Namun hingga bermalam-malam selanjutnya Aulia tak pernah muncul. Air mata Yasmin telah membatu. Tak ada lagi yang mampu di tangisinya selain nestapa yang tengah di laluinya. Rasa penyesalan, marah dan sakit hati bercampur aduk menjadi satu atas kebohongan yang dilakukan Aulia. Namun rasa cinta Yasmin tetap mengembang tanpa ada cela sedikitpun.

**********

“......ke-3 tersangka pelaku aborsi tersebut kini harus mendekam di penjara. Tuntutan penjara 3 tahun telah di persiapkan oleh jaksa penuntut. Persidangannya akan dimulai esok hari pukul 10.00 WIB....” suara penyiar televisi tersebut seakan membelah kepala Yasmin dan membuat dirinya begitu lunglai mendengarnya.

Salah satu dari ke-tiga wajah yang ada di televisi tersebut adalah lelaki yang di tunggu-tunggu Yasmin selama berminggu-minggu ini. Setelah sekian lama akhirnya Yasmin melihat wajah suaminya terkulai layu di televisi. Ya tuhan....Aulia tertangkap oleh polisi bersama ke tiga orang rekannya. Tanpa pikir panjang Yasmin segera berganti pakaian dan bergegas pergi.


**********

Yasmin sudah cukup menunggu lama di ruangan kecil itu, akhirnya Aulia muncul dengan di temani dua orang sipir penjaga. Kedua tangannya terborgol.


“ 15 menit. Tidak lebih.” Salah seorang sipir tersebut mengingatkan Yasmin yang di balasnya dengan sebuah anggukan.

Aulia duduk tepat di hadapannya dengan muka yang kusut bercampur bahagia. Sebuah senyum tersyngging di bibirnya menyambut kedatangan Yasmin.

“ Apa kabar Mas?” Yasmin memberanikan diri memulai percakapan.

“ Seperti yang kau lihat, apa aku tampak baik-baik saja?” Aulia menjawab dengan pertanyaan balik dengan nada yang datar.

“ Mas, aku minta maaf...” Yasmin berbicara dengan air mata yang mulai meleleh di kedua pipinya.

“ Sudahlah, aku tahu semua ini salahku. Kalau saja aku bisa memberimu seorang anak, tak mungkin kau akan berselingkuh di belakangku.” Aulia menjawab dengan nada yang dalam dan pedih.

“ Bagaimana kandunganmu sekarang?” Aulia bertanya balik sebelum Yasmin sempat mengeluarkan kata-katanya.

Entahlah Mas, aku gak tahu mau di apakan jabang bayi ini.” Yasmin menjawab lirih di iringi isak tangis.

“ Berapa bulan kandunganmu?”

“ Tiga setengah bulan.”

“ Sebaiknya kau pelihara saja jabang bayi itu. Belum tentu kau akan mendapat kesempatan lagi menjadi seorang ibu.” Aulia mengeluarkan kata-kata yang membuat Yasmin terbelalak kaget.

“ Tapi Mas, anak ini....” Yasmin mencoba bicara dengan kata yang terbata-bata.

“ Aku tahu itu bukan anakku. Dan aku tak peduli siapa bapaknya. Aku kan merawatnya seperti anakku sendiri.” Aulia memotong ucapan Yasmin dengan kata-kata yang begitu lirih dan dalam.

“ Apa Mas sungguh-sungguh?” Yasmin bertanya balik sembari kebingungan. Apa yang baru saja di dengarnya dari mulut Aulia seperti sebuah mimpi di siang bolong.

“ Yasmin, aku teramat mencintaimu. Seandainya aku mampu, aku ingin membahagiakanmu dengan memberimu seorang anak. Jika kau menjadi sempurna sebagai perempuan dengan memiliki seorang anak, sekalipun itu bukan darah dagingku, aku terima.” Aulia mencoba meyakinkan Yasmin dengan kata-katanya.

“ Mas….” Yasmin tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Yasmin, aku tak mau kehilangan kamu.”

Kedua tangan Aulia yang terborgol meraih tangan Yasmin dan menciumnya. Air mata menetes di atas kedua genggaman tangannya.

“ Tentang pekerjaanku, maafkan aku karena tak pernah jujur padamu. Aku hanya ingin memberimu materi yang cukup yang tak mungkin bisa ku berikan dengan pekerjaan biasaku. Maafkan aku Yasmin, aku begitu malu padamu.” Kini Indra yang mulai meneteskan air matanya.

“ sudahlah Mas, aku memaafkanmu.”

Yasmin beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Aulia dan memeluknya dengan erat. Mereka pun berangkulan melepas rasa cinta mereka yang mulai utuh kembali.

Jogjakarta, 30 september 2005

No comments:

Post a Comment